Berproses Bersama Sanggar Merah Merdeka

Kami mulai berkegiatan di Sanggar Merah Merdeka pada bulan September. Ikut dalam kegiatan SMM merupakan pengalaman baru bagi kami. Mulai dari lingkungan tempat kegiatan, karakteristik anak, jenis kegiatan, serta cara relawan menghadapi anak-anak memberikan kami pelajaran baru. Menyadari bahwa kami berada di suatu kondisi yang baru, maka kami bertekad untuk semakin intens mengenal kegiatan-kegiatan di SMM sekaligus memahami sudut pandang para pendamping tentang nilai anak-anak.

Bukan hal yang mudah untuk memahami sudut pandang bentuk pendampingan termasuk dalam bentuk kegiatan yang diberikan pada anak-anak. Jika hanya berdasarkan pada usia anak semata, maka kami tidak akan memahami mengapa bentuk pendampingan kepada anak-anak seperti yang kami lihat selama bergabung di SMM. Namun, kami akhirnya dapat memahaminya setelah berbicara banyak dengan romo Wawan dan Mas Heru tentang latar belakang anak-anak di tempat dampingan.

Setelah mengetahui banyak faktor dalam pendampingan dan bentuk kegiatan di SMM, kami semakin ingin membagikan apa yang kami pelajari dalam bentuk pelatihan tentang bentuk-bentuk kegiatan kepada anak sekaligus tentang tahap-tahap perkembangan anak. Bukan untuk menggurui teman-teman pendamping. Harapan kami hanya sederhana, yaitu apa yang kami bagikan akan berguna nantinya untuk para pendamping dan pengembangan kegiatan di SMM itu sendiri.

Dalam serangkaian kegiatan yang kami lakukan bersama para relawan dalam waktu kurang lebih 3 bulan ini, banyak pelajaran yang tidak akan kami temui dalam buku teks Psikologi. Kami melihat usaha para relawan dalam memperhatikan kehidupan anak-anak. Anak-anak memperoleh kebebasan dalam memilih apa yang diinginkan. Tidak membatasi anak-anak seperti harus duduk, diam, dan mendengarkan seperti di sekolah, melainkan memenuhi kebutuhan anak-anak untuk bisa mengekspresikan diri mereka apa adanya.

Mahasiswa Psikologi Universitas Katolik Widya Mandala

(Detricia, Yulianto, Lingga, Chindria, Olive)