Hardiknas

Acara yang dibuka oleh Mas Jo pada pukul 19.25 nampak sangat meriah. Ruang depan dan tengah Sanggar penuh dengan kehadiran orang tua yang kali ini datang untuk memperingati HARDIKNAS. Tujuan pertemuan ini untuk menumbuhkan perhatian yang lebih pada anak-anak tentang bagaimana mendukung dan cara mewujudkan cita-cita anak-anak. Hal ini sebenarnya dapat dimulai dari sekolah, apakah sebagai orang tua sering bertanya keadaan anak di sekolah?

Menurut Mas Jo, “Orang tua, anak-anak, dan sanggar akan sama-sama berusaha membuat cita-cita anak dapat tercapai.”

Acara yang diadakan 10 Maret 2012 tersebut dipimpin oleh Romo Wawan. Anak-anak yang sebelumnya sudah membuat surat untuk orang tua, diarahkan oleh Romo untuk berhadapan dengan orang tua masing-masing dan membacakan surat mereka. Surat yang berisi tentang cita-cita mereka pun dibacakan kurang lebih 15 menit. Selanjutnya, Romo bertanya kesan-kesan orang tua setelah mendengarkan surat yang berisi cita-cita anaknya. Banyak sekali tanggapan, mulai dari Ibu Yuli, orang tua Rudi, yang anaknya ingin jadi arsitek.

Ibu-ibu sedang mendengarkan anak-anak mereka membacakan isi surat….

“Sebenarnya ya ga tahu arsitek itu apa. Yang saya tahu cita-cita mereka itu baik. Pokoke jangan sampai kayak bapaknya di bangunan. Soro uripe.”

Tak kalah seru ibu dari Diah yang bercerita anaknya ingin jadi dokter. Awalnya ibu ini merasa senang dan sedih mendengar cita-cita anaknya dan merasa apakah sanggup untuk membantu anaknya itu. Kemudian ibunya Diah teringat cerita tetangga, bahwa ada tukang kuli bangunan di sekitar Jagir yang ketiga anaknya sukses, ada yang jadi dosen ITS, jaksa, dan pengusaha.

“Cerita ini yang buat saya semangat dan jadi orang tua ini harus selalu mendoakan dan mengusahakan supaya cita-cita anak bisa tercapai.” Kata Ibu Diah sambil berkaca-kaca.

Cerita lain datang dari ibu dari Alan yang mengatakan anaknya di rumah ini kerjaannya main terus. Saat Alan cerita ingin jadi pemain sepakbola, Ibu Alan ini tidak langsung melarang ataupun mendukung.

“Karena memang prestasi akademik belum kelihatan, jadi kalau pulang sekolah baru boleh main sepak bola kalau tugasnya selesai. Boleh saja main, tapi sekolah tetap nomer satu. Jadi sambil berjalan baru dilihat perkembangannya dulu.” Ibu Alan bercerita dengan semangat.

Ada beberapa lagi yang bercerita anaknya ingin jadi pramugari, montir dan sebagainya. Orang tua merasa bangga anak-anaknya mempunyai cita-cita yang tinggi.

Penutup dari Romo Wawan pun sangat menyentuh. Senakal-nakalnya anak-anak itu akan tetap sayang pada orang tua. Terbukti dari semua tulisan yang dibuat anak-anak yang ditujukan untuk orang tua tercinta. Mari bersama-sama mewujudkan cita-cita anak-anak. Dan tidak lupa Romo memberitahu lagi bila ada masalah apapun di rumah atau sekolah bisa diobrolkan dengan pembina di sanggar.

oleh Hilda Yunita