Kesan Pertama Mengikuti Kegiatan Sanggar Merah Merdeka

Keterlibatan saya mengikuti sanggar ini berawal dari keprihatinan saya melihat anak-anak yang kurang mendapatkan hak-haknya, terlebih anak-anak yang berkekurangan. Saya melihat karakter anak-anak saat ini lebih memprihatinkan.

 

Banyak anak saat ini yang mencontoh perilaku kurang baik dari orang dewasa. Misalnya diumur mereka yang belum beranjak dewasa sudah bisa merokok. Tidak hanya itu, banyak pula anak yang sudah mengerti mengenai percakapan orang dewasa.

 

Hal tersebut sungguh memprihatinkan. Apabila tidak ada orang yang peduli terhadap hal ini, maka saya tidak tahu generasi seperti apa jadinya di masa depan.

 

Kurangnya sarana dan prasana bagi mereka yang berkurangan menjadi salah satu hambatan mereka untuk berkembang. Di tengah sulitnya kehidupan ekonomi, membuat mereka tidak dapat menerima sesuatu yang lebih baik.

 

Sebagai seorang manusia, saya merasa hidup ini diciptakan untuk saling berbagi. Mungkin sebagian orang merasa sulit untuk berbagi, ditambah lagi jika mereka merasa tidak ada yang bisa untuk dibagikan. Orang terkadang merasa ia masih memiliki masalah atau keperluan pribadi dan tidak bisa untuk berbagi.

 

Ketika orang berkata seperti itu, bukan berarti masalah lantas akan hilang. Sebagian orang juga merasa baru bisa berbagi ketika masalah atau keperluan mereka terselesaikan, dsb. Hal itu membuat berbagi menjadi hal yang tidak mungkin untuk dilakukan.

 

Untuk pertama kalinya saya mendatangi rumah dan lingkungan dimana anak-anak tinggal. Saya mendapatkan informasi bahwa keluarga anak-anak berasal dari latar belakang yang berbeda. Berbagai jenis profesi yang dilakukan oleh orang tua mereka dan salah satunya adalah pemulung.

 

Saya mencoba berkenalan dengan mereka satu per satu. Saya berusaha untuk memberikan pengajaran kepada mereka bersama dengan relawan lain. Mereka tidak jauh berbeda dari anak lainnya. Mungkin yang membedakan anak yang terdidik dengan tidak dapat dilihat dari attitude (perilaku) mereka.

 

Anak-anak tidak hanya dibekali dengan ilmu pengetahuan saja namun juga ilmu mengenai kehidupan sehari-hari dalam bertutur kata dan perilaku yang sopan.

 

Saya berharap apa yang sudah dan masih dilakukan sejauh ini oleh Sanggar Merah Merdeka pada akhirnya dapat mencapai visi itu sendiri. Satu anak belajar menjadi pemimpin bermula dari dalam keluarga.

 

Jika banyak anak tertolong maka beberapa keluarga pun ikut tertolong. Beberapa keluarga yang baik pada akhirnya akan melahirkan lingkungan yang baik.

 

Hidup Anak Indonesia! Majulah Bangsa ku, Majulah Indonesia !

 

Maria Panjaitan

Relawan sanggar