Kisah Kasih bersama anak-anak Sanggar Merah Merdeka

Resah dan gelisah… itu perasaanku yang timbul diawal saya baru mengenal apa itu Yayasan Kasih Bangsa Surabaya.

 

Tepat di bulan Juli 2017, dimana awal tahun pelajaran baru telah dimulai, saya berada disini awalnya karena tugas dari Yayasan CM yang mempunyai karya diantaranya  dunia sosial dan pendidikan, bermulai dari surat keputusan dari Yayasan Lazaris tentang pelaksanaan Misi saya di Yayasan Kasih Bangsa Surabaya.

 

Senang dan galau pun muncul karena tugas misi yang belum saya tahu nantinya mau ngapain dan kegiatanya apa saja disana. Tugas Misi ini salah satunya menjadi syarat pengangkatan pegawai tetap di Yayasan Lazaris. Kebetulan saya sebagai salah satu tenaga pendidikan di unit SDK St. Aloysius yang juga dibawah naungan dari Yayasan Lazaris.

 

Awal mula saya belum mengenal ruang lingkup Yayasan Kasih Bangsa Surabaya secara khusus di salah satu divisi yang nanti menjadi tempat saya bermisi yakni Sanggar Merah Merdeka. Tetapi melalui sharing dari beberapa teman bahwa kegiatan sanggar menyenangkan karena bergumul dengan anak-anak yang sanggat membutuhkan perhatian dari orang lain. Melalui diskusi bersama keluarga dan teman saya memantapkan diri untuk terlibat Misi di Sanggar Merah Merdeka.

 

Setiap hari aku jalani tugas misi ini. Dukungan keluarga kecilku sangat menguatkanku selain tugas sebagai tenaga pendidikan di sekolah. Dua tugas yang kujalani ini tidaklah ringan bagiku, tetapi aku menemukan kenyamanan saat menjalani tugas misi ini dan saya menemukan kehangatan keluarga diantara relawan beserta anak-anak sanggar dan para orang tua anak-anak khususnya di Kampung Tales. Mereka welcome dengan saya meski saya baru beberapa hari disitu. Setiap hari saya boleh merasakan, mendengar cerita kecil mereka dan canda tawa itu lo membikin yang awalnya badan terasa lelah, letih menjadi bimes (bikin gemes).

 

Meski saya menjadi seorang tenaga pendidikan, saya bersyukur bisa merasakan terlibat dalam proses pembelajaran di Sanggar Merah Merdeka. Dari sini saya belajar merefleksikan diri dimana sebelumnya sempat terngiang di pikiran apakah saya mampu? Apakah saya bisa menjalankan misi ini? Tetapi semua pikiran saya itu hilang semua, sudah terlewati. Keakraban dengan anak-anak, hal itu yang membuat saya merasakan dan menemukan keluarga baru.

 

Tak lupa setelah kegiatan kami selalu ada evaluasi, dengan didampingi mas Heru sebagai penanggung jawab Sanggar Merah Merdeka, bersama Frater Novan dan teman-teman yang lain. Banyak pelajaran dan masukan yang dapat saya ambil dalam kehidupan pribadi saya sehari-hari.

 

Kupercayakan semua pada Tuhan bahwa pekerjaan atau pelayanan yang aku jalani ini tidaklah berat dibandingkan dengan orang-orang yang di sekitarku saat ini yaitu tempat Misiku berada, diberi jalan kelancaran yang terbaik demi pelayanan, perhatian bagi anak-anak di tengah kota metropolitan Surabaya yang begitu banyak rintangan dan godaan. Terima Kasih CINTA ( Joy Tobing ) with Anak-anak Sanggar Merah Merdeka

 

bagi saya,,,

“Hidup Adalah Kesempatan, Kesempatan yang tidak datang 2 kali, maka pakailah kesempatan ini sebaik-baiknya selama kamu bisa ”.

 

 

Pratiwi Natalia. U

Karyawan SDK St. Aloysius

1 comment for “Kisah Kasih bersama anak-anak Sanggar Merah Merdeka

  1. Parnoignatius
    31 October 2017 at 12:22

    Bu Tiwi emang luar biasa. Kami banyak belajar dari keceriaan Bu Tiwi dg anak dan relawan sanggar

Leave a Reply