Pendidikan tidak harus di Sekolah

Di era modernisasi saat ini, banyak isu kejahatan yang berlabel pendidikan. Bahkan kadang isu-isu tersebut datang dari suatu pendidikan yang berbasis formal, contohnya seperti sekolah. Dalam proses pendidikan formal di sekolah terkadang anak merasa kurang nyaman dan minimnya pihak sekolah memfasilitasi pendidikan dengan basis non formal. Ada banyak kasus isu-isu kejahatan itu bermulai dari sekolah fomal, contohnya anak-anak dituntut untuk pintar dalam bidang akademis, tetapi sedikit sekali sekolah mengimbangi pendidikan akademis dengan pendidikan-pendidikan non formal seperti akhlak, moral, dan relasi sosial.

 

Sanggar Merah Merdeka (SMM), sanggar yang bergerak dalam pendampingan anak-anak pinggiran, dalam kegiatannya lebih mengedepankan pendidikan non formal untuk anak-anak dampinganya di Kampung Tales. Meski yang saya ketahui saat ini di SMM juga punya agenda pelajaran akademis setiap hari senin-kamis, namun pendidikan akademis ini hanya sebagai sarana memudahkan anak-anak untuk mengikuti pelajaran di sekolah. Di sisi lain, SMM lebih mengutamakan pendidikan-pendidikan yang masih belum banyak dipelajari di sekolah seperti pendidikan akhlak, moral dan relasi sosial.

 

Ada salah satu agenda pembelajaran SMM yang sangat istimewa bagi saya, dan yang akan saya tuliskan saat ini yaitu “Belanja di Pasar”. Memang siapa yang menganggap istimewa belanja di pasar? Sebetulnya jika kita lihat secara kritis mengenai fungsi pasar untuk anak-anak, banyak sekali pelajaran yang tidak terduga didalamnya seperti pelajaran keberanian, belajar untuk tidak malu bertanya, belajar untuk membangun relasi anak dengan pedagang.

 

Pada tanggal 14 Oktober 2017 malam, saya diperkenankan untuk belanja bersama anak-anak di pasar Mangga Dua bersama anak-anak kurang lebih 18 anak malam itu. Proses yang sederhana juga untuk mengajak anak-anak berjalan kaki menuju pasar yang jaraknya dari kampung Tales kurang lebih 10 menit untuk sampai di pasar.

Sesampainya di pasar, saya dan Rudi membagi kelompok menjadi 2 supaya bisa lebih kondusif. Pada malam itu saya mendapati 1 kelompok berjumlah 9 anak ialah Alexa, Vira, Mira, Wulan, Sela, Fahmi, Novan, Iis, Toni. Setelah pembagian kelompok, anak diberi catatan menu belanjaan yang harus mereka belanjakan.

 

Niatku malam itu mencoba mendampingi anak-anak dalam proses belanja. Akan tetapi aku dikejutkan dengan banyak hal saat itu. Anak-anak yang terbiasa berbelanja di pasar sudah hafal dengan letak area pedagang antara pedagang sayur, daging  dan sembako.

 

Pada akhirnya aku mencoba untuk berbaris di belakang anak-anak sehingga aku bisa melihat begitu beraninya anak-anak dalam belanja, bahkan malam itu anak-anak berani bertanya kepada pedagang lain mengenai tempat yang harus dituju (karena toko tutup). Selain keberanian anak-anak untuk bertanya, ada pengalaman penting bagi hidup saya pribadi. Melihat anak-anak berinteraksi positif dengan pedagang, sehingga anak-anak mampu menciptakan obrolan tawar menawar seperti yang dilakukan orang dewasa pada umumnya di pasar.

 

Contoh kisah malam itu ketika saya mencoba mendatangi pedagang yang berjualan kubis, dan saya coba menanyakan harga kubis tersebut dan pedagang mengatakan harganya Rp. 8.000,- Tak lama kemudian anak-anak muncul dari berlakang saya dan berkata,” bulek kubisnya ada ta? Berapaan? “. Ujar anak-anak kepada penjual kubis. Kemudian penjual kubis menjawab “Rp. 8.000,- anak mau beli berapa?”. Jawab penjual kubis. Anak-anak pun menjawab lagi “larange (kok mahal) bulek?”, jawab anak-anak dan perlahan mereka meninggalkan pedagang tersebut. Tak lama kemudian pedagang memanggil anak-anak yang mulai jauh darinya “He nak, rinio kubis e Rp. 4.000 ae wes. (Hei nak.. kesini.. ya sudah kubisnya Rp. 4.000 saja),” ujar ibu pedagang kubis itu. Kemudian anak-anak kembali menghampiri ibu-ibu itu dan membayarnya.

Dari kisah itu bisa saya ambil hal positifnya, seperti ketika harus belanja tidak perlu keburu-buru untuk mendapat barang yang baik dan murah. Di malam itu aku sangat mendapatkan banyak pelajaran dari anak-anak.

 

Dan akupun mengerti bahwa ilmu itu tidak hanya datang dari orang dewasa ataupun orang tua. Bahkan dari sikap anak pun juga kita bisa mendapat pelajaran yang begitu berharga.

 

By: Lufita Febriani